.quickedit{ display:none; }
dean_tuban's blog

Syekh Ibrahim Asmarakandi atau Syekh Ibrahim as-Samarkandy atau Syekh Ibrahim al-Hadhrami bernama lahir Sayyid Ibrahim al-Ghozi, diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap as-Samarkandy, hingga akhirnya berubah menjadi Asmarakandi.

Selain itu di kalangan masyarakat Jawa, beliau juga dikenal dengan nama Raja Pandhita, Sayyid Haji Mustakim, Makdum Brahim Asmara, Maulana Ibrahim Asmara atau Imam dari Asmara.

Menurut versi Arab, Syekh Ibrahim Asmarakandi adalah seorang ulama besar dari Samarkand , daerah sekitar Bukhara di Uzbekistan kini. Sebuah daerah yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah berpenduduk Islam yang taat dan juga para ulamanya yang juga termasyhur.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan dikirimnya Syamsuddin al-Wali ke Turki, seorang ulama lain dari Bukhara bernama Syekh Jamaluddin Akbar al-Husain mengirimkan anaknya Sayyid Ibrahim al-Ghozi untuk berdakwah ke wilayah timur. Dengan berpandukan kepada ilham yang diterima oleh ayahnya, Sayyid Ibrahim al-Ghozi pergi menuju ke Asia Tenggara. Beliau menjumpai ternyata penduduk timur (Asia Tenggara) masih menganut agama selain Islam. Beliau sadar bahwa bukan di zamannya lah Islam akan gemilang dan bangkit di timur seperti yang dimaksudkan dalam hadist Nabi, dan peran beliau hanyalah sebatas meng-Islamkan wilayah timur.

Mula-mula beliau tiba dan kemudian bermukim di Campa (sekarang Kamboja) selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Di sana , beliau berdakwah kepada masyarakat dan juga Raja Campa hingga kemudian bersedia masuk Islam. Beliau bahkan kemudian menikahi Dewi Candha Wulan, putri Raja Campa tersebut, hingga kemudian menghasilkan dua orang anak, yaitu Raden Ahmad Ali Murtadho (Raden Santri) dan Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).

Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392 M, Sayyid Ibrahim al-Ghozi yang kemudian bergelar Syekh, hijrah ke Pulau Jawa bersama keluarganya. Sebelum ke Jawa, pada tahun 1440, mereka singgah dulu di Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang waktu itu, Arya Damar. Setelah tiga tahun di Palembang dan berhasil meng-Islamkan Adipati Arya Damar (yang kemudian berganti nama menjadi Abdullah) dan keluarganya, barulah kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke Pulau Jawa.

Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai akhirnya Syekh Ibrahim al-Ghozi yang kemudian dikenal sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan wafat. Beliau kemudian dimakamkan di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban, Jawa Timur pada sekitar tahun 1444 M.

Oleh karena itu, beliau juga kemudian dikenal sebagai SUNAN NGGESIK. Sisa rombongan, yang terdiri dari Raden Rahmat, Raden Santri, Raden Burereh serta beberapa kerabat lainnya, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Trowulan, ibukota Majapahit, untuk menemui bibi mereka Dewi Andarawati yang telah menikah dengan Raja Majapahit pada waktu itu, Prabu Brawijaya.
1 Response
  1. Anonim Says:

    artikelnya menarik banget nih!!!

    tambah lagi yan!!


    Rofi'i


Posting Komentar